Perilaku agresif merupakan salah satu jenis penyakit psikologis. Mungkin agak aneh ditelinga orang awam jika menyebut suatu sikap yang agresif disebut sebagai penyakit psikologis.
Lalu sikap agresif seperti apakah yang masuk dalam kategori penyakit psikologis ini? Apakah semua sikap agresif diindikasikan sebagai penyakit psikologis?

perilaku-agresif

Penyakit agresif  biasanya terjadi pada masa perkembangan anak. Ketika anak-anak memasuki usia 3-7 tahun, perilaku atau sikap agresif ini akan muncul dan menjadi bagian dari perkembangannya. Namun masalah ini kerap membuat masalah.

Untuk anak-anak normal, setelah lewat dari usia 7 tahun, anak tersebut akan bisa mengendalikan sikap agresif mereka. Tetapi jika sikap agresif ini masih terus ada dalam diri anak itu, berarti anak tersebut memang memiliki gangguan psikologis.

Anak berperilaku agresif jika memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

Mendorong teman adalah sikap yang biasa. Namun jika setiap ungkapan tidak setuju dan kecewa diungkapkan dengan mendorong teman dengan keras, maka anak tersebut sudah terindikasi memiliki masalah psikologis berperilaku agresif. Terlebih jika anak ini kerap memukul temannya.
Masalah ini bersifat kronis dan menetap dalam diri anak secara terus menerus bahkan hingga anak ini telah semakin tumbuh dewasa. Perilaku sudah mulai ekstrim dan benar-benar bertentangan dengan norma sosial.

Pengertian perilaku agresif.

Menurut pendapat Myers, sikap agresif yang masuk dalam kategori penyakit psikologis adalah sikap agresif yang mengarah ke perilaku fisik ataupun perilaku lisan yang sengaja dilakukan dengan suatu maksud untuk menyakiti maupun merugikan orang lain.

Perilaku yang agresif ini cenderung ekstrim. Seseorang yang memiliki masalah ini akan menyerang pada sesuatu yang dipandangnya menghalangi atau mengecewakannya.

Gejala penyakit perilaku agresif

Anak-anak yang berperilaku agresif memiliki gejala superioritas. Dirinya merasa harus selalu dituruti dan didengarkan. Apapun yang dia minta harus tersedia. Jika tidak, dia akan mengambil tindakan atau perilaku untuk menyerang.

Perilaku ekstrim ini bisa sangat membahayakan. Contoh sikap agresif yang masuk dalam masalah psikologis ini seperti menusukan pensil runcing ke tangan temannya, atau tiba-tiba mendorong temannya dengan keras karena berbeda pendapat.

Tidak hanya secara perilaku, biasanya hal ini juga dilakukan secara verbal. Contohnya seperti selalu memaksa orang lain untuk melakukan sesuatu yang dia perintahkan. Jika menolak, biasanya dia akan berteriak ke orang tersebut dan memaksanya lebih ekstrim.

Ada juga yang sering menghina atau mengejek orang lain hingga orang tersebut menjadi kesal. Dan dari situ dia mendapat kepuasan.

Penyebab anak berperilaku agresif

Masykouri dalam bukunya menjelaskan, bahwa penyebab dari perilaku agresif yang ditunjukan oleh anak-anak dipengaruhi oleh empat faktor utama.

Keempat faktor tersebut adalah gangguan biologis dan penyakit, keluarga, lingkungan sekolah, dan juga pengaruh dari budaya negatif. Tetapi faktor-faktor penyebab ini sifatnya sangat kompleks.

Secara biologis, emosi seorang anak bisa dipengaruhi oleh faktor genetik, neurologist ataupun biokimia. Maka dari itu kondisi biologis anak bisa mempengaruhi emosi anak itu juga.

Secara lingkungan baik di keluarga, sekolah maupun budaya di lingkungan sekitarnya tetap juga bisa memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap munculnya masalah anak berperilaku agresif.

Masalah ini berdampak cukup serius pada anak. Anak akan sulit bergaul dan akan dijauhi oleh teman-temannya karena sikap dan perilakunya yang agresif.

Jika hal ini tidak dihentikan, akan muncul lingkaran setan pada diri si anak. Anak akan semakin bersikap agresif karena merasa tidak diterima.

Maka dari itu orang tua harus bisa menangani masalah ini dan mengenali faktor penyebab dari sikap agresif yang dilakukan anak. Pola asuh orang tua dan cara pengajaran dari sekolah harus bisa disesuaikan dengan kondisi anak ini.

Pencegahan masalah anak berperilaku agresif

Kelemahan anak agresif bahwa dirinya tidak mampu menanggapi perilaku secara tepat. Guru atau orang tua bisa menunjukan cara yang benar untuk menanggapi orang lain. Misalnya pengungkapan perasaan sedih, marah, kesal yang tepat dan sesuai dengan norma harus seperti apa. Role play bisa menjadi salah satu cara untuk mengajarkan hal ini pada anak.

Perilaku agresif memang menjadi salah satu bagian dari tumbuh kembang anak. Namun jika hal ini terus menetap dalam diri anak dan sudah semakin membahayakan, orang tua harus bisa segera mengambil sikap dan melakukan pencegahan.