Bayi tabung atau fertilisasi in vitro cenderung dikaitkan dengan pasangan suami istri yang sudah menikah selama satu tahun lebih, namun belum juga dikaruniai seorang anak. Pengertian tentang fertilisasi in vitro, atau bayi tabung adalah proses dalam melakukan pembuahan sel telur atau ovum secara in vitro. Pembuahan sel telur secara in vitro berarti sel telur akan dibuahi oleh sperma di luar dari tubuh si wanita. Dengan tujuan agar sel telur dan sperma bertemu dan harapannya terjadilah pembuahan. Proses pembuahan tersebut harus dilakukan dengan berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter kandungan. Sebab segala tindakan yang berkaitan dengan apapun termasuk dunia medis, dalam hal ini program fertilisasi in vitro, tidak menutup terjadinya resiko jika tidak dilakukan sesuai dengan anjuran dokter kandungan.

bayi-tabung

Mengenal Resiko Menjalani Program Fertilisasi In Vitro

Program fertilisasi in vitro tentu perlu dilakukan dengan persiapan yang matang. Sebab resiko fertilisasi in vitro bisa dialami oleh wanita yang menjalani program tersebut. Postingan ini tidak lah bermaksud untuk menakuti, namun lebih sebagai bentuk kewaspadaan dan menjadi pertimbangan bagi suami istri yang hendak menjalani program fertilisasi in vitro.

Pendarahan atau Infeksi

Resiko yang terjadi tentu dialami oleh calon ibu. Seperti kemungkinan pendarahan atau infeksi yang menyerang organ tertentu ketika sel telur diambil.

Sindrom Hiperstimulasi Ovarium

Resiko lain juga perlu diwaspadai ketika calon ibu mulai melakukan stimulasi pembuahan. Pada saat tersebut, calon ibu bisa jadi mengalami sindrom “Hiperstimulasi Ovarium”. Seperti timbul rasa nyeri, kram, berat badan yang bertambah, maupun kembung di perut. Namun, sindrom tersebut akan hilang setelah siklus pembuahan memasuki tahap akhir.

Mengalami Keguguran

Resiko lainnya yang dapat menyerang calon ibu adalah keguguran. Tentu tidak mudah melakukan pembuahan melalui program bayi tabung. Risiko yang dialami oleh calon ibu juga dapat berimbas pada segi psikologis seperti stress, karena menjalani program bayi tabung butuh kesiapan emosi yang besar dan kesabaran.

Risiko pada Si Calon Bayi

Selain dialami oleh calon ibu, resiko program fertilisasi in vitro juga dapat dialami oleh si calon bayi. Seperti lahir prematur, mengalami cacat pada fisik, atau hamil di luar dari rahim wanita. Bahkan menurut penelitian ahli dari Swiss, bayi tabung yang lahir dapat mengalami kaku pada pembuluh darah. Dan mengarah pada penyakit jantung ketika si bayi telah beranjak dewasa memasuki usia kepala lima.

Tingkat Kesehatan dari Bayi yang dilahirkan Melalui Program Fertilisasi In Vitro

Bayi yang dilahirkan melalui program fertilisasi in vitro memang terlihat sama seperti kelahiran bayi yang dibuahi secara alami. Namu dari segi kesehatan, bayi yang lahir melalui program fertilisasi in vitro lebih rentan terserang penyakit. Penyakit yang dapat menyerang fertilisasi in vitro seperti alergi maupun asma. Namun, menurut profesor David Celermajer yang ahli dalam bidang kardiologi, Universit of Sydney Medical School, bayi yang dilahirkan melalui program fertilisasi in vitro tetap dapat hidup dan tumbuh secara normal dengan kesehatan yang terjaga.

Tips Perawatan bagi Calon Ibu dan Si Calon Bayi

Bagi wanita yang sudah menjalani program fertilisasi in vitro, disarankan untuk menjaga kehamilannya dengan baik. Penting untuk rajin melakukan konsultasi dan kontrol ke dokter kandungan. Kemudian calon ibu tersebut juga harus mau menjalani pola hidup sehat. Hindari untuk mengkonsumsi makanan cepat saji, berpenyedap, serta yang mengandung kolesterol tinggi. Selain itu, berpikirlah bahwa kehamilan pada program fertilisasi in vitro sebagai kehamilan alami. Penting untuk calon ibu merasa santai dalam menjalani program fertilisasi in vitro.

Bagi di bayi yang telah dilahirkan, maka seorang ibu harus merawat dengan sebaik-baiknya dan penuh kasih sayang. Pemberian ASI ekslusif menjadi wajib bagi wanita yang melahirkan bayi melalui program fertilisasi in vitro. Dalam hal ini, tidak ada pengecualian merawat bayi, meskipun dilahirkan melalui program fertilisasi in vitro. Sebab bagaimanapun juga si bayi adalah karunia Tuhan untuk suami-istri yang telah lama mengidam-idamkan buah hati lahir ke dunia.

Semoga penjelasan mengenai fertilisasi in vitro in dapat memantapkan pasangan suami istri yang hendak melakukan program fertilisasi in vitro. Dengan memahami risiko nya, maka calon ibu dapat lebih siap dan sedapat mungkin menghindari risiko tersebut. Suami dan istri perlu memahami tingkat kesehatan dan cara perawatan bayi tabung sehingga dapat merawat bayi tersebut hingga tumbuh dan berkembang dengan sehat dan cerdas.